 
{"id":1451,"date":"2023-02-27T23:59:03","date_gmt":"2023-02-27T15:59:03","guid":{"rendered":"https:\/\/uthkg.com\/akademisi\/?p=1451"},"modified":"2023-05-28T08:37:05","modified_gmt":"2023-05-28T00:37:05","slug":"dari-naturalisme-ke-artificial-intelligence","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/uthkg.com\/akademisi\/dari-naturalisme-ke-artificial-intelligence\/","title":{"rendered":"Dari Naturalisme Ke Artificial Intelligence"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"has-text-align-center has-black-color has-vivid-cyan-blue-background-color has-text-color has-background has-medium-font-size wp-block-paragraph\"><strong>Dari Naturalisme Ke Artificial Intelligence<\/strong><\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Kuratorial Lukisan Denny JA, Resma Ramesh, Dkk. Di Pameran Seni Rupa International Minangkabau Literacy Festival 2023<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Oleh Iswandy<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">DARI NATURALISME KE ARTIFICIAL Pameran seni rupa yang menjadi salah satu kegiatan pada International Minangkabau Literasi Festival (IMLF) 2023 terbilang unik dan istimewa. Khususnya dari materi karya-karya yang tertampilkan.<\/p>\n\n\n<div class=\"wp-block-image\">\n<figure class=\"aligncenter size-full is-resized\"><img data-recalc-dims=\"1\" loading=\"lazy\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/uthkg.com\/akademisi\/wp-content\/uploads\/sites\/2\/2023\/02\/image-31.png?resize=696%2C435&#038;ssl=1\" alt=\"Dari Naturalisme Ke Artificial Intelligence\" class=\"wp-image-1464\" width=\"696\" height=\"435\"\/><\/figure>\n<\/div>\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Pada pameran ini karya-karya konvensional dengan corak naturalis, realis dan abstrak yang menjadi ciri dari perkembangan awal seni rupa modern di Indonesia bersanding dengan karya-karya yang pada perkembangan terkini di katagorikan kedalam Digital Art ( fotografi dan &nbsp;Artificial Inteligence ).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Lima orang seniman yang berpartisipasi dalam pameran ini. Di antaranya Minda Sari (Padang \u2013 Indonesia), Nazhatulshima Nolan (Malaysia), Herisman Is (Pekanbaru \u2013Indonesia), Reshma Ramesh (India). Dan Denny JA (Jakarta \u2013 Indonesia). Mereka membawa bahasa rupa yang berbeda satu dan yang lainnya.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading has-text-align-justify\">Minda Sari sebagai salah seorang pelukis senior Sumatera barat masih setia dengan corak naturalisnya. Dengan objek pemandangan alam yang ada di ranah Minang.<\/h3>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading has-text-align-justify\">Herisman Is yang saat ini berdomisili di kota Pekanbaru hadir dengan sejumlah lukisan abstrak. Sudah menjadi ciri khas dari karya-karyanya dari dulu.<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Sementara Reshma Ramesh salah seorang penyair dari India mengetengahkan puluhan karya \u2013karya fotografinya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Artificial intelligence (AI) yang saat ini menjadi fenomenal dan memiliki pengaruh dalam dunia seni rupa terlihat pada karya-karya Denny JA.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Di samping bahasa visual yang sangat beragam, pameran Lintas Masa juga istimewa. Karena karya-karya terbangun dari kultur yang juga berbeda dari para senimannya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Namun demikian, nilai-nilai spiritualitas personal terpadu dengan problematika sosial. Dan kemudian terpresentasikan ke dalam bentuk karya sepertinya menjadi kecenderungan umum yang terlihat pada karya-karya peserta pameran.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Dalam hal ini sangat terlihat karya-karya mereka sangat personal dan sarat dengan pesan-pesan yang bersifat transidental. Ketika para seniman seolah-olah mengajak para apresiannya untuk kembali merenungi nilai \u2013 nilai religi, etika dan moralitas.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Membangun ikatan atau mencari titik sambung dengan kecenderungan bahasa serta media yang berbeda dalam sebuah pameran tentunya bukanlah perkara mudah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Salah satu aspek yang terasa memungkinkan untuk mendapatkan ketersambungan keempat peserta pameran adalah menelaah sisi histori dari perkembangan seni rupa. Ketika antara naturalisme hingga digital art berada &nbsp;dalam lintasan perkembangan seni rupa dari masa ke masa.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Inilah yang melatarbelakangi pemilihan tema pameran ini, Lintas Masa. Selain perihal perkembangan. Cakupan dari tema pada pameran ini juga tidak terlepas dari ruang sosial para perupanya yang menjadi gagasan dalam penciptaan karya.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading has-text-align-justify\">Corak Naturalistik<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Di Minangkabau (baca: Sumatera Barat), naturalistik terperkenalkan kepada kaum pribumi di Hindia Belanda oleh para pelukis Belanda. Atau bangsa Eropa lainnya. Baik belajar secara pribadi maupun melalui pendidikan menggambar\/melukis di Kweek School.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Naturalistik awalnya berasal dari aliran Barbiinzon di Perancis. Lukisan naturalistik (pemandangan alam) merupakan kesukaan masyarakat kelas menengah (borjuasi) di Eropa.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Lukisan bercorak naturalistik muncul bersamaan dengan perkembangan kelas menengah. Yaitu kelas masyarakat yang berlatar belakang saudagar dan pengusaha. Mereka kurang menyukai lukisan yang menggambarkan adegan cerita dari Injil sebagai ciri lukisan abad pertengahan di Eropa.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Corak ini berawal dari munculnya pergeseran cara pandang. Dari the age of authority menjadi the age of reason. Ini membawa pengaruh besar terhadap perubahan sosial pada masa neoklassisme di Eropa.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Sebuah babak baru memunculkan terjadinya pertentangan sosial antara kaum bangsawan dengan kaum borjuasi. Kaum borjuasi lebih memilih lukisan bercorak naturalistik (Pemandangan Alam).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Corak yang berasal dari aliran Barbiinzon Perancis. Inilah yang terbawa oleh para pelukis Belanda ke Hindia Belanda (Indonesia) pada abad ke-19.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Tokoh \u2013tokoh naturalis seperti Raden Saleh, Abdullah Suryosubroto, Mas Pirngadie, Wakidi dan Basuki Abdullah adalah penggerak corak Naturalis di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Tebaran corak naturalistik sebagai bentuk modernitas seni rupa di Sumatra Barat pelopor oleh pelukis pada Wakidi pada tahun 1940-an.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Dalam perjalanannya hingga sekarang, Wakidi melahirkan para murid \u2013 muridnya yang terkenal dengan istilah Wakidian. Corak Naturalistik menjadi satu-satunya corak dalam perkembangan seni lukis modern periode awal perjalanan seni rupa Sumatera Barat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Salah seorang Wakidian yang hingga saat ini masih aktif berkaya adalah pelukis Minda Sari. Pada saat ini menjadi salah satu peserta pameran Lintas Masa Minangkabau International Literacy Festival.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading has-text-align-justify\">Seni Abstrak<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Sejarah perkembangan seni abstrak mulai di Eropa pada abad ke-19. Kemudian berkembang pesat di Amerika Serikat pada awal abad ke-20.<\/p>\n\n\n<div class=\"wp-block-image\">\n<figure class=\"aligncenter size-full is-resized\"><img data-recalc-dims=\"1\" loading=\"lazy\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/uthkg.com\/akademisi\/wp-content\/uploads\/sites\/2\/2023\/02\/image-26.png?resize=696%2C435&#038;ssl=1\" alt=\"Dari Naturalisme Ke Artificial Intelligence\" class=\"wp-image-1459\" width=\"696\" height=\"435\"\/><\/figure>\n<\/div>\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Pada awal kemunculannya, seni abstrak berhasil menjadi aliran seni baru, sebagai bentuk respon terhadap karya-karya realis.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Para pelukis mulai merepresentasikan obyek nyata ke seni abstrak dengan mengutamakan warna simbolik berbanding warna alami.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Saat beralih ke seni abstrak, para pelukis di era itu mulai mengabaikan tiruan kenyataan atau obyek nyata alam. Dan lebih memilih membuat isyarat obyek tersebut.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Para pelukis juga lebih mengutamakan gagasan mereka tentang karya seni yang akan terbuat, berbanding observasi. Perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi juga salah satu alasan berkembangangnya seni abstrak.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading has-text-align-justify\">Di Indonesia seni abstrak berkembang pada era 1950-an melalui para tokoh pelukis yang umumnya berasal dari Bandung dan Jogjakarta.<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Pada awal perkembangannya di Indonesia corak abstrak terbagi menjadi dua yaitu figuratif dan non figuratif. Dalam hal ini ekspresionime dengan tokoh-tokohnya seperti Affandi. Zaini, Popo Iskandar mengkategorikan kedalam seni abstrak Figuratif.<\/p>\n\n\n<div class=\"wp-block-image\">\n<figure class=\"aligncenter size-large is-resized\"><img data-recalc-dims=\"1\" loading=\"lazy\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/uthkg.com\/akademisi\/wp-content\/uploads\/sites\/2\/2023\/02\/image-34-1024x538.png?resize=696%2C435&#038;ssl=1\" alt=\"Dari Naturalisme Ke Artificial Intelligence\" class=\"wp-image-1467\" width=\"696\" height=\"435\"\/><\/figure>\n<\/div>\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Sementara karya \u2013 karya Ahmad Sadali, A.D Firous dan sejumlah orang lagi kategori seni Abstrak non figuratif.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Seni abstrak sendiri cukup berkembang di Sumatera Barat sejak era 70-an sampai sekarang. Pengaruh perkembangan corak ini tidak terlepas dari tokoh \u2013 tokoh pelukis asal Sumatera Barat. Mereka cukup berperan dalam perjalanan seni abstrak di Indonesia. Di antaranya Oesman Efendi, Zaini, Muchtar Apin dan Nashar.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Pembahasan seni abstrak dalam tulisan ini tentunya berkenaan dengan keikutsertaan perupanya. Herisman Is pada pameran seni rupa lintas waktu yang karya \u2013karyanya konsisten dengan gaya abstrak sejak dulu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Dua buah karya Herisman Is terbangun oleh kekuatan rasa yang tersajikan melalui permainan garis dan warna. Cerita tentang perubahan dalam tatanan kehidupan masyarakat di Minankabau (Sumatera Barat). Sangat terlihat dalam lukisan Herisman Is yang tampil melalui <strong>simbol warna \u2013 warna marawa (Hitam, Merah dan Kuning)<\/strong>.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Torehan garis- garis yang kasar dan spontan seolah pernyataan bahwa herisman Is mencoba melepaskan kegelisahannya dalam memandang perubahan yang ada, khususnya &nbsp;perubahan nilai dan pergeseran makna filosofi adat &nbsp;Minangkabau.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading has-text-align-justify\">Ekspresionime<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Corak ekspresionis terlihat dari tiga buah karya Nazhatulshima Nolan, pelukis sekaligus penulis berkebangsaan Malaysia pada pameran lintas masa.<\/p>\n\n\n<div class=\"wp-block-image\">\n<figure class=\"aligncenter size-full is-resized\"><img data-recalc-dims=\"1\" loading=\"lazy\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/uthkg.com\/akademisi\/wp-content\/uploads\/sites\/2\/2023\/02\/image-27.png?resize=696%2C435&#038;ssl=1\" alt=\"Dari Naturalisme Ke Artificial Intelligence\" class=\"wp-image-1460\" width=\"696\" height=\"435\"\/><\/figure>\n<\/div>\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Lukisan-llukisannya dibangun melalui perpaduan antara luapan emosi &nbsp;dan bahas visual yang cenderung ekspresif.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Karya-karya Nazatukshima Nolan mengingatkan kita kepada esensi awal berkembangnya ekspresionisme pada abad ke-19 yang diilhami oleh aliran simbolisme.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Obyek- objek yang hadirkan di atas kanvas penuh dengan simbol tentang kehidupan dan alam dengan bahasa\u2013bahasa kontradiktif. Seperti halnya kelahiran ekspresionime yang memandang alam yang telah berubah dan tidak lagi indah seperti pandangan kaum realis.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Seniman memiliki ingatan dan cara pandang tersendiri dari yang pernah terlihatnya di alam, lalu terekspresikan pada karyanya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Seniman ekspresionis mengabaikan berbagai teknik penciptaan formal untuk mendapatkan ekspresi yang lebih murni dan tanpa tekanan dari kepentingan ekstrinsik seni.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading has-text-align-justify\">Singkatnya dapat mengatakan bahwa Ekspresionisme adalah&nbsp;aliran seni rupa yang menonjolkan ungkapan dari dalam jiwa.<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Ekspresionisme muncul sebagai bagian dari reaksi terhadap Impresionisme. Dan seni akademis klasik yang sudah mencapai puncak artistik yang mapan dengan anggapan terlalu kaku karena hanya meniru alam.<\/p>\n\n\n<div class=\"wp-block-image\">\n<figure class=\"aligncenter size-full\"><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/uthkg.com\/akademisi\/wp-content\/uploads\/sites\/2\/2023\/02\/image-28.png?w=696&#038;ssl=1\" alt=\"Dari Naturalisme Ke Artificial Intelligence\" class=\"wp-image-1461\"\/><\/figure>\n<\/div>\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Ekspresionisme sangat terilhami oleh aliran Simbolisme pada seni abad ke-19. Vincent van Gogh, Edvard Munch, dan James Ensor adalah seniman-seniman yang sangat berpengaruh pada munculnya aliran ekspresionisme.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Gerakan aliran ekspresionisme berlangsung dari sekitar 1905 hingga 1920 dan menyebar ke seluruh Eropa bahkan dunia.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Istilah aliran ekspresionisme juga pada awalnya sering berguna untuk mengkategorikan para seniman post-impresionisme.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Itu sebabnya alasan Vincent Van Gogh juga sering sebutannya sebagai pengusung aliran ekspresionisme. Karena ia memang terkategorikan sebagai ekspresionis sebelum pengkategorian aliran Post-Impresionisme ada.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Vincent juga dapat terkatakan sebagai seorang ekspresionis, Karena ia merupakan salah satu tokoh penting dari kemunculan aliran ini.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Sejumlah seniman yang menjadi tokoh penting dalam aliran ekspresionisme meliputi Edvard Munch. Dengan lukisan \u201cThe Scream\u201d, Ernst Ludwig Kirchner, dan nama Affandi adalah seorang maestro dalam seni luks Ekspresionisme di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading has-text-align-justify\">Seni Fotografi<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Perkembangan seni rupa modern yang berawal dengan penemuan teknologi fotografi pada pertengahan abad 19 yang lalu. Telah mempengaruhi cara pandang dalam berkesenian di seluruh dunia. Khususnya dalam bidang seni rupa dan desain. Selain muncul beragam aliran baru dalam seni lukis, muncul pula berbagai gerakan dan pendidikan seni dan desain. Dengan metode baru yang lebih konstruktif.<\/p>\n\n\n<div class=\"wp-block-image\">\n<figure class=\"aligncenter size-full is-resized\"><img data-recalc-dims=\"1\" loading=\"lazy\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/uthkg.com\/akademisi\/wp-content\/uploads\/sites\/2\/2023\/02\/image-29.png?resize=696%2C435&#038;ssl=1\" alt=\"Dari Naturalisme Ke Artificial Intelligence\" class=\"wp-image-1462\" width=\"696\" height=\"435\"\/><\/figure>\n<\/div>\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Demikian pula berpengaruh terhadap aspek pemanfaatan teknologi dalam seni. Fotografi dapat diartikan sebagai sebuah cara melukis dengan menggunakan media cahaya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Fotografi seakan mampu menggantikan peran lukisan sebagai sebuah seni representasi. Karena hasil yang dihasilkan kamera saat itu mirip atau menyerupai lukisan.apa<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Dengan melihat pengertian dan awal perkembangan fotografi, terlihat bahwa fotografi berusaha masuk dalam kategori seni visual. Yang mampu merepresentasikan keindahan secara sempurna bak sebuah lukisan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Pada pameran Lintas Masa ini tampil karya-karya fotografi Reshma Ramesh, seorang sastrawan sekaligus fotografer asal India.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading has-text-align-justify\">Karya-karya fotografi Reshma Ramesh lebih banyak bercerita tentang alam, realita sosial yang sarat dengan nilai-nilai moral dan religi.<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Kemunculan seni berbasis teknologi digital termasuk karya-karya fotografi dan video art yang berkembang di Eropa. Kemudian menyebar hingga ke Indonesia. Telah memperkenalkan media dan paradigma baru dalam berkesenian yang tidak terbatas lagi pada media, ruang, waktu dan konteks tertentu.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large is-resized\"><img data-recalc-dims=\"1\" loading=\"lazy\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/uthkg.com\/akademisi\/wp-content\/uploads\/sites\/2\/2023\/02\/image-33-1024x564.png?resize=696%2C435&#038;ssl=1\" alt=\"Dari Naturalisme Ke Artificial Intelligence\" class=\"wp-image-1466\" width=\"696\" height=\"435\"\/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Pada karya-karya fotografi Reshma Ramesh tersaji sebuah narasi tentang eksotika dan romantisme kehidupan manusia sebagai bagian tak terpisahkan dari semesta.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Kemampuannya meramu ide lokal menjadi global, tradisi menjadi modern. Serta mengangkat nilai-nilai spiritualitas dari masa lampau menjadi kontekstual patut mendapat apresiasi. Sebagai sebuah upaya untuk menjaga \u2018kemurnian\u2019 ditengah hiruk pikuk globalisasi saat ini.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading has-text-align-justify\">Artificial Intelligence ( AI Arts)<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Pesan-pesan spritualitas juga sangat terasa pada karya-karya artificial intelligence ( AI Arts) oleh Denny JA.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Proses berkarya bagi Denny JA sepertinya merupakan sebuah media kontemplasi. Sekaligus penyeimbang di tengah hiruk pikuk kehidupannya sebagai seorang konsultan, enterpreneur, dan peneliti.<\/p>\n\n\n<div class=\"wp-block-image\">\n<figure class=\"aligncenter size-large is-resized\"><img data-recalc-dims=\"1\" loading=\"lazy\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/uthkg.com\/akademisi\/wp-content\/uploads\/sites\/2\/2023\/02\/image-32-1024x504.png?resize=370%2C231&#038;ssl=1\" alt=\"\" class=\"wp-image-1465\" width=\"370\" height=\"231\"\/><\/figure>\n<\/div>\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Spiritualitas dalam berkarya Denny JA tidak terlepas dari pengaruh berbagai karya maestro dunia di era impresionis. Seperti Van Gogh, Monet, dan para maestro dunia lainnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Perjalanan batin yang ia rasakan saat menikmati karya para maestro dunia tersebut ternyata memberikan pengaruh besar dalam proses kreatifnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Pada pameran Lintas Masa ini, Denny JA mencoba membawa kita menyusuri perjalanan kontemplatif ke dalam ruang batin. Dengan menghadirkan atmosfer dari lukisan-lukisan impresionis para maestro dunia lewat sentuhan teknologi artificial intelligence.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Akan halnya lingkup seni rupa berbasis artificial intelligence yang menjadi fenomena baru dalam perkembangan senirupa modern saat ini. Tentu sangat menarik untuk pembahasan lebih lanjut.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Teknologi digital membuat batasan pada klasifikasi seni menjadi semakin baur. Seperti halnya ketika awal berkembangnya seni fotografi, &nbsp;keterlibatan Artificial intelligence dalam dalam dunia seni menimbulkan berbagai pertanyaan dan melahirkan diskursus panjang.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading has-text-align-justify\">Di satu sisi, khususnya para pelaku seni rupa mempertanyakan apakah karya hasil AI merupakan karya seni?<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Pertanyaan ini tentunya berdasarkan bahwa karya seni terbuat dengan jiwa dan emosi pekaryanya, hal yang tidak bisa tergantikan oleh mesin.<\/p>\n\n\n<div class=\"wp-block-image\">\n<figure class=\"aligncenter size-full\"><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/uthkg.com\/akademisi\/wp-content\/uploads\/sites\/2\/2023\/02\/image-24.png?w=696&#038;ssl=1\" alt=\"\" class=\"wp-image-1453\"\/><\/figure>\n<\/div>\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Senada dengan pendapat ini. Sebagian orang menganggap bahwa seni tidak selalu bergantung pada yang didapatkan oleh audiens ketika mengapresiasinya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Sisi lainnya berpendapat bahwa AI hanyalah sebagai media atau alat yang termanfaatkan oleh seniman &nbsp;dalam menuangkan berbagai ide dan gagasan. Dan hasil karya yang terbuat dengan media AI tetap memiliki emosi dan jiwa berdasarkan si pembuatnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Sadar atau tidak, penggunaan AI dalam bidang seni kreatif sudah menjadi hal wajar untuk sebagian besar orang. Fitur-fitur yang sering kita jumpai di perangkat lunak penyunting gambar. Seperti penghalus garis, penajam gambar, sampai ke penghapus latar belakang. Otomatis merupakan salah satu sistem kecerdasan buatan yang dapat memudahkan manusia di bidang seni kreatif.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Salah satu hal yang menjadi batasan utama AI dalam menciptakan sebuah seni adalah ketidakmampuan-nya untuk memahami dan menginterpretasikan pengalaman manusia.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Meskipun AI dapat menganalisis dan belajar dari sejumlah data yang besar secara cepat. AI tidak memiliki kemampuan untuk berempati dan memahami kompleksitas dari kondisi manusia.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Artinya, ide kreatif dan solusi hasil AI akan cenderung memiliki keterbatasan. Pada kedalaman emosional dan nuansa yang menjadi ciri khas pemikiran terbaik manusia.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading has-text-align-justify\">Namun terlepas dari segala polemik tentang kehadiran ke artifical intelligence dari naturalisme dalam seni rupa. Seni adalah sebuah media penyampai pesan, konsep atau gagasan yang ternarasikan oleh senimannya.<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Pemikiran, perenungan dan berbagai pengalaman spiritual yang terangkum dalam perjalanan hidup tentunya dapat diabadikan dalam berbagai media.<\/p>\n\n\n<div class=\"wp-block-image\">\n<figure class=\"aligncenter size-full\"><img data-recalc-dims=\"1\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/i0.wp.com\/uthkg.com\/akademisi\/wp-content\/uploads\/sites\/2\/2023\/02\/image-23.png?w=696&#038;ssl=1\" alt=\"\" class=\"wp-image-1452\"\/><\/figure>\n<\/div>\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Pada akhirnya. Keberhasilan sesungguhnya bagi seorang seniman. Adalah ketika pesan atau narasi yang tersuguhkan dalam karya-karyanya dapat dirasakan dan menyentuh sanubari para penikmatnya. Pameran Lintas Masa pada IMLF ini<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Selamat menikmati Pameran Lintas Masa!<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-justify wp-block-paragraph\">Salam Budaya<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Dari Naturalisme Ke Artificial Intelligence<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><a href=\"https:\/\/uthkg.com\/akademisi\/\">UT Hong Kong &amp; Macau<\/a>; Desain website oleh <a href=\"https:\/\/hanjuang.id\">Cahaya Hanjuang<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dari Naturalisme Ke Artificial Intelligence Kuratorial Lukisan Denny JA, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":72,"featured_media":1469,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jetpack_post_was_ever_published":false,"_jetpack_newsletter_access":"","_jetpack_dont_email_post_to_subs":false,"_jetpack_newsletter_tier_id":0,"_jetpack_memberships_contains_paywalled_content":false,"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","default_image_id":0,"font":"","enabled":false},"version":2}},"categories":[59,10,11],"tags":[],"class_list":["post-1451","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-karya-dan-keahlian","category-sains-teknologi-dan-digitasi","category-teknologi-informasi-dan-komunikasi"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v26.6 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Dari Naturalisme Ke Artificial Intelligence - UT Hong Kong &amp; Macau<\/title>\n<meta name=\"description\" content=\"Dari naturalisme ke artificial intelligence. Pameran seni rupa menjadi salah satu kegiatan pada International Minangkabau Literacy Festival.\" \/>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/uthkg.com\/akademisi\/dari-naturalisme-ke-artificial-intelligence\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Dari Naturalisme Ke Artificial Intelligence - UT Hong Kong &amp; Macau\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Dari naturalisme ke artificial intelligence. Pameran seni rupa menjadi salah satu kegiatan pada International Minangkabau Literacy Festival.\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/uthkg.com\/akademisi\/dari-naturalisme-ke-artificial-intelligence\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"UT Hong Kong &amp; Macau\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/web.facebook.com\/Universitas-Terbuka-Hong-Kong-112743498359364\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2023-02-27T15:59:03+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2023-05-28T00:37:05+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/uthkg.com\/akademisi\/wp-content\/uploads\/sites\/2\/2023\/02\/WhatsApp-Image-2021-10-12-at-08.20.39-1-300x300-1.jpeg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"300\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"300\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Ryan Winters\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:creator\" content=\"@ut_hkg\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@ut_hkg\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Ryan Winters\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"13 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/uthkg.com\/akademisi\/dari-naturalisme-ke-artificial-intelligence\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/uthkg.com\/akademisi\/dari-naturalisme-ke-artificial-intelligence\/\"},\"author\":{\"name\":\"Ryan Winters\",\"@id\":\"https:\/\/uthkg.com\/akademisi\/#\/schema\/person\/026296181dd08424b15a13328f5e9e78\"},\"headline\":\"Dari Naturalisme Ke Artificial Intelligence\",\"datePublished\":\"2023-02-27T15:59:03+00:00\",\"dateModified\":\"2023-05-28T00:37:05+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/uthkg.com\/akademisi\/dari-naturalisme-ke-artificial-intelligence\/\"},\"wordCount\":1986,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/uthkg.com\/akademisi\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/uthkg.com\/akademisi\/dari-naturalisme-ke-artificial-intelligence\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/i0.wp.com\/uthkg.com\/akademisi\/wp-content\/uploads\/sites\/2\/2023\/02\/WhatsApp-Image-2021-10-12-at-08.20.39-1-300x300-1.jpeg?fit=300%2C300&ssl=1\",\"articleSection\":[\"Karya dan Keahlian\",\"Sains, Teknologi dan Digitasi\",\"Teknologi Informasi dan Komunikasi\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\/\/uthkg.com\/akademisi\/dari-naturalisme-ke-artificial-intelligence\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/uthkg.com\/akademisi\/dari-naturalisme-ke-artificial-intelligence\/\",\"url\":\"https:\/\/uthkg.com\/akademisi\/dari-naturalisme-ke-artificial-intelligence\/\",\"name\":\"Dari Naturalisme Ke Artificial Intelligence - UT Hong Kong &amp; Macau\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/uthkg.com\/akademisi\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/uthkg.com\/akademisi\/dari-naturalisme-ke-artificial-intelligence\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/uthkg.com\/akademisi\/dari-naturalisme-ke-artificial-intelligence\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/i0.wp.com\/uthkg.com\/akademisi\/wp-content\/uploads\/sites\/2\/2023\/02\/WhatsApp-Image-2021-10-12-at-08.20.39-1-300x300-1.jpeg?fit=300%2C300&ssl=1\",\"datePublished\":\"2023-02-27T15:59:03+00:00\",\"dateModified\":\"2023-05-28T00:37:05+00:00\",\"description\":\"Dari naturalisme ke artificial intelligence. Pameran seni rupa menjadi salah satu kegiatan pada International Minangkabau Literacy Festival.\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/uthkg.com\/akademisi\/dari-naturalisme-ke-artificial-intelligence\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/uthkg.com\/akademisi\/dari-naturalisme-ke-artificial-intelligence\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/uthkg.com\/akademisi\/dari-naturalisme-ke-artificial-intelligence\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/i0.wp.com\/uthkg.com\/akademisi\/wp-content\/uploads\/sites\/2\/2023\/02\/WhatsApp-Image-2021-10-12-at-08.20.39-1-300x300-1.jpeg?fit=300%2C300&ssl=1\",\"contentUrl\":\"https:\/\/i0.wp.com\/uthkg.com\/akademisi\/wp-content\/uploads\/sites\/2\/2023\/02\/WhatsApp-Image-2021-10-12-at-08.20.39-1-300x300-1.jpeg?fit=300%2C300&ssl=1\",\"width\":300,\"height\":300,\"caption\":\"DARI NATURALISME KE ARTIFICIAL\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/uthkg.com\/akademisi\/dari-naturalisme-ke-artificial-intelligence\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/uthkg.com\/akademisi\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Dari Naturalisme Ke Artificial Intelligence\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/uthkg.com\/akademisi\/#website\",\"url\":\"https:\/\/uthkg.com\/akademisi\/\",\"name\":\"UT Hong Kong &amp; Macau\",\"description\":\"Salam satu jiwa cahaya!\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/uthkg.com\/akademisi\/#organization\"},\"alternateName\":\"Universitas Terbuka Hong Kong & Macau\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/uthkg.com\/akademisi\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/uthkg.com\/akademisi\/#organization\",\"name\":\"Universitas Terbuka Hong Kong & Macau\",\"alternateName\":\"Salam satu jiwa cahaya!\",\"url\":\"https:\/\/uthkg.com\/akademisi\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/uthkg.com\/akademisi\/#\/schema\/logo\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/i0.wp.com\/uthkg.com\/akademisi\/wp-content\/uploads\/sites\/2\/2022\/12\/cropped-logo512-1.png?fit=512%2C512&ssl=1\",\"contentUrl\":\"https:\/\/i0.wp.com\/uthkg.com\/akademisi\/wp-content\/uploads\/sites\/2\/2022\/12\/cropped-logo512-1.png?fit=512%2C512&ssl=1\",\"width\":512,\"height\":512,\"caption\":\"Universitas Terbuka Hong Kong & Macau\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/uthkg.com\/akademisi\/#\/schema\/logo\/image\/\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/web.facebook.com\/Universitas-Terbuka-Hong-Kong-112743498359364\",\"https:\/\/x.com\/ut_hkg\"]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/uthkg.com\/akademisi\/#\/schema\/person\/026296181dd08424b15a13328f5e9e78\",\"name\":\"Ryan Winters\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/uthkg.com\/akademisi\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/uthkg.com\/akademisi\/wp-content\/peepso-2\/users\/72\/aef9ff0157-avatar-full.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/uthkg.com\/akademisi\/wp-content\/peepso-2\/users\/72\/aef9ff0157-avatar-full.jpg\",\"caption\":\"Ryan Winters\"},\"url\":\"https:\/\/uthkg.com\/akademisi\/profile\/?ryan-alexander\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Dari Naturalisme Ke Artificial Intelligence - UT Hong Kong &amp; Macau","description":"Dari naturalisme ke artificial intelligence. Pameran seni rupa menjadi salah satu kegiatan pada International Minangkabau Literacy Festival.","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/uthkg.com\/akademisi\/dari-naturalisme-ke-artificial-intelligence\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Dari Naturalisme Ke Artificial Intelligence - UT Hong Kong &amp; Macau","og_description":"Dari naturalisme ke artificial intelligence. Pameran seni rupa menjadi salah satu kegiatan pada International Minangkabau Literacy Festival.","og_url":"https:\/\/uthkg.com\/akademisi\/dari-naturalisme-ke-artificial-intelligence\/","og_site_name":"UT Hong Kong &amp; Macau","article_publisher":"https:\/\/web.facebook.com\/Universitas-Terbuka-Hong-Kong-112743498359364","article_published_time":"2023-02-27T15:59:03+00:00","article_modified_time":"2023-05-28T00:37:05+00:00","og_image":[{"width":300,"height":300,"url":"https:\/\/uthkg.com\/akademisi\/wp-content\/uploads\/sites\/2\/2023\/02\/WhatsApp-Image-2021-10-12-at-08.20.39-1-300x300-1.jpeg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Ryan Winters","twitter_card":"summary_large_image","twitter_creator":"@ut_hkg","twitter_site":"@ut_hkg","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"Ryan Winters","Estimasi waktu membaca":"13 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/uthkg.com\/akademisi\/dari-naturalisme-ke-artificial-intelligence\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/uthkg.com\/akademisi\/dari-naturalisme-ke-artificial-intelligence\/"},"author":{"name":"Ryan Winters","@id":"https:\/\/uthkg.com\/akademisi\/#\/schema\/person\/026296181dd08424b15a13328f5e9e78"},"headline":"Dari Naturalisme Ke Artificial Intelligence","datePublished":"2023-02-27T15:59:03+00:00","dateModified":"2023-05-28T00:37:05+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/uthkg.com\/akademisi\/dari-naturalisme-ke-artificial-intelligence\/"},"wordCount":1986,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/uthkg.com\/akademisi\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/uthkg.com\/akademisi\/dari-naturalisme-ke-artificial-intelligence\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/i0.wp.com\/uthkg.com\/akademisi\/wp-content\/uploads\/sites\/2\/2023\/02\/WhatsApp-Image-2021-10-12-at-08.20.39-1-300x300-1.jpeg?fit=300%2C300&ssl=1","articleSection":["Karya dan Keahlian","Sains, Teknologi dan Digitasi","Teknologi Informasi dan Komunikasi"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/uthkg.com\/akademisi\/dari-naturalisme-ke-artificial-intelligence\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/uthkg.com\/akademisi\/dari-naturalisme-ke-artificial-intelligence\/","url":"https:\/\/uthkg.com\/akademisi\/dari-naturalisme-ke-artificial-intelligence\/","name":"Dari Naturalisme Ke Artificial Intelligence - UT Hong Kong &amp; Macau","isPartOf":{"@id":"https:\/\/uthkg.com\/akademisi\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/uthkg.com\/akademisi\/dari-naturalisme-ke-artificial-intelligence\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/uthkg.com\/akademisi\/dari-naturalisme-ke-artificial-intelligence\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/i0.wp.com\/uthkg.com\/akademisi\/wp-content\/uploads\/sites\/2\/2023\/02\/WhatsApp-Image-2021-10-12-at-08.20.39-1-300x300-1.jpeg?fit=300%2C300&ssl=1","datePublished":"2023-02-27T15:59:03+00:00","dateModified":"2023-05-28T00:37:05+00:00","description":"Dari naturalisme ke artificial intelligence. Pameran seni rupa menjadi salah satu kegiatan pada International Minangkabau Literacy Festival.","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/uthkg.com\/akademisi\/dari-naturalisme-ke-artificial-intelligence\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/uthkg.com\/akademisi\/dari-naturalisme-ke-artificial-intelligence\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/uthkg.com\/akademisi\/dari-naturalisme-ke-artificial-intelligence\/#primaryimage","url":"https:\/\/i0.wp.com\/uthkg.com\/akademisi\/wp-content\/uploads\/sites\/2\/2023\/02\/WhatsApp-Image-2021-10-12-at-08.20.39-1-300x300-1.jpeg?fit=300%2C300&ssl=1","contentUrl":"https:\/\/i0.wp.com\/uthkg.com\/akademisi\/wp-content\/uploads\/sites\/2\/2023\/02\/WhatsApp-Image-2021-10-12-at-08.20.39-1-300x300-1.jpeg?fit=300%2C300&ssl=1","width":300,"height":300,"caption":"DARI NATURALISME KE ARTIFICIAL"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/uthkg.com\/akademisi\/dari-naturalisme-ke-artificial-intelligence\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/uthkg.com\/akademisi\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Dari Naturalisme Ke Artificial Intelligence"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/uthkg.com\/akademisi\/#website","url":"https:\/\/uthkg.com\/akademisi\/","name":"UT Hong Kong &amp; Macau","description":"Salam satu jiwa cahaya!","publisher":{"@id":"https:\/\/uthkg.com\/akademisi\/#organization"},"alternateName":"Universitas Terbuka Hong Kong & Macau","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/uthkg.com\/akademisi\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/uthkg.com\/akademisi\/#organization","name":"Universitas Terbuka Hong Kong & Macau","alternateName":"Salam satu jiwa cahaya!","url":"https:\/\/uthkg.com\/akademisi\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/uthkg.com\/akademisi\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/i0.wp.com\/uthkg.com\/akademisi\/wp-content\/uploads\/sites\/2\/2022\/12\/cropped-logo512-1.png?fit=512%2C512&ssl=1","contentUrl":"https:\/\/i0.wp.com\/uthkg.com\/akademisi\/wp-content\/uploads\/sites\/2\/2022\/12\/cropped-logo512-1.png?fit=512%2C512&ssl=1","width":512,"height":512,"caption":"Universitas Terbuka Hong Kong & Macau"},"image":{"@id":"https:\/\/uthkg.com\/akademisi\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/web.facebook.com\/Universitas-Terbuka-Hong-Kong-112743498359364","https:\/\/x.com\/ut_hkg"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/uthkg.com\/akademisi\/#\/schema\/person\/026296181dd08424b15a13328f5e9e78","name":"Ryan Winters","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/uthkg.com\/akademisi\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/uthkg.com\/akademisi\/wp-content\/peepso-2\/users\/72\/aef9ff0157-avatar-full.jpg","contentUrl":"https:\/\/uthkg.com\/akademisi\/wp-content\/peepso-2\/users\/72\/aef9ff0157-avatar-full.jpg","caption":"Ryan Winters"},"url":"https:\/\/uthkg.com\/akademisi\/profile\/?ryan-alexander\/"}]}},"jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/i0.wp.com\/uthkg.com\/akademisi\/wp-content\/uploads\/sites\/2\/2023\/02\/WhatsApp-Image-2021-10-12-at-08.20.39-1-300x300-1.jpeg?fit=300%2C300&ssl=1","jetpack-related-posts":[],"jetpack_shortlink":"https:\/\/wp.me\/pesC3q-np","jetpack_sharing_enabled":true,"jetpack_likes_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/uthkg.com\/akademisi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1451","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/uthkg.com\/akademisi\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/uthkg.com\/akademisi\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/uthkg.com\/akademisi\/wp-json\/wp\/v2\/users\/72"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/uthkg.com\/akademisi\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1451"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/uthkg.com\/akademisi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1451\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/uthkg.com\/akademisi\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1469"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/uthkg.com\/akademisi\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1451"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/uthkg.com\/akademisi\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1451"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/uthkg.com\/akademisi\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1451"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}