Menulis Adalah Bekerja Untuk Keabadian

“Menulislah, karena tanpa menulis engkau akan hilang dari pusaran sejarah. Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian”. Pramoedya Ananta Toer.

Menurut Pram, menulis itu pekerjaan yang bisa menembus keabadian. Aku sependapat. Tapi bukan berarti yang tidak menulis, tidak suka menulis atau tidak mampu menulis itu buruk. Itu pembahasan lain.

Menulis Tidak Sekedar Merangkai Huruf dan Kata-kata

Di sini aku menanggapi pernyataan Pram tentang menulis. Menurut interpretasiku, menulis yang Pram maksud adalah menulis yang tidak sekedar merangkai huruf-huruf menjadi deretan kata yang tanpa makna. Tapi menulis adalah menuangkan gagasan, menyampaikan ide dalam pikiran, menggelar makna atas ide tersebut yang bertujuan untuk menciptakan suatu pemahaman, pengertian, membuka wawasan, yang baru, entah untuk diri sendiri atau untuk orang lain yang membaca.

Menyampaikan gagasan biasanya untuk menanggapi suatu fenomena, ini masuk wilayah kritisisme, seperti apapun cara penyampaiannya. Contohnya adalah yang Pram lakukan sendiri semasa hidupnya. Apapun yang selanjutnya terjadi pada dirinya, sebagai respon dari pihak-pihak yang ia kritisi, tapi Pram dengan keberaniaanya “menulis”. Ia telah menjadi legenda, namanya terkenang, karyanya abadi, dan menjadi inspirasi untuk orang-orang yang hidup setelahnya.

Karya Tulis Yang Menjadi Ancaman Bagi Penulisnya Namun Menjadi Pedoman Bagi Orang Banyak

Jika menelusuri sejarah, kita akan bertemu banyak tokoh, kelas dunia malah, yang sekaliber Pram. Yang mungkin juga bernasib sama seperti Pram, tulisannya mengancam dirinya sendiri, atau bahkan lebih tragis, berakhir dengan kehilangan nyawa. Namun di masa-masa setelahnya, karya tulis tersebut menjadi pedoman ilmu pengetahuan dan sumber inspirasi bagi hidup banyak orang.

Tentu saja aku tidak seekstrim itu. Untuk mempertaruhkan keselamatan dalam menulis gagasan dan menanggapi fenomena sehari-hari yang terjadi dalam kehidupan umat manusia.

Bagiku dalam menuangkan ide yang sering bergumul dalam otak kecilku. Yang ternyata ada daya pikir yang mampu menampung isi seluruh jagat itu. Yang sebenarnya semua manusia punya potensi bawaan lahir yang sama. Aku memilih hal-hal inspiratif namun ringan dan berenergi lembut. Tidak mengaduk-aduk nalar dan emosional yang negatif. Atau membangkitkan kemarahan atau rasa tidak terima terhadap kenyataan, memunculkan perasaan bahwa kita adalah korban keadaan. Aku mamilih jalur lain.

Menulis apapun yang bisa membangkitkan semangat hidup. Dan kepercayaan sekaligus pemberdayaan diri, kepekaan sosial dan lingkungan. Serta eksplorasi kecerdasan alami dan humanisme, analisis situasi dan cara eksis dalam ketenangan di tengah semrawutnya keadaan. Selain itu juga metode-metode penyembuhan dan pemulihan diri dari berbagai keterpurukan. Serta membuka sudut pandang yang beragam di tengah pola pikir mainstream yang seragam dan membosankan serta menguras energi.

Peran Para Tokoh Besar Dunia Lewat Tulisan

Seperti tokoh-tokoh besar dunia yang menjadi guru-guru peradaban sepanjang sejarah. Mereka menebarkan kasih sayang dan energi penyembuh ke segala penjuru bumi, melalui karya tulisan mereka. Aku sangat satu frekuensi.

Namun bagi mereka, para pendahulu atau para pejuang kemanusiaan yang kritis dan idealis. Aku tetap menaruh hormat dan rasa salut atas keberanian yang besar itu. Hingga mempertaruhkan nyawa mereka sendiri. Sekalipun semasa hidupnya termarjinalkan dan tersingkirkan. Ternyata sepeninggal mereka, setelah puluhan atau bahkan ratusan tahun, buah pikiran mereka teradopsi. Dan menjadi sumber rujukan serta pedoman perjuangan bagi generasi berikutnya. Sama-sama menjadi pujaan sebagai tokoh dunia, agen-agen perubahan dan penghulu ilmu pengetahuan.

Pada intinya ketika mereka menulis. Sesungguhnya mereka sedang melukiskan getaran jiwa dan mentransfer energi mereka. Mengabadikan energi tersebut menjadi titik-titik gerbang ilmu, cahaya pengetahuan dan pencerahan. Serta membuka cakrawala berpikir dan bernalar, menciptakan stimulasi pendayagunaan kecerdasan bagi para pembacanya.

Dan semua itu menjadi karya yang tetap eksis sepanjang masa. Meski jasad mereka sudah tidak ada, secara fisik mereka sudah mati. Tapi jiwa mereka tetap hidup, menjadi pencerah selama berabad-abad, melalui tulisan-tulisan yang mereka goreskan. Itulah karya yang menembus keabadian.

Salam hormat untuk para “penulis”. Anda semua adalah pencerah, agen perubahan, anda bekerja untuk keabadian.

artikel ini pernah tayang di cahayajournal/klubcahaya.com

By : Nunik Cho

Menulis Adalah Bekerja Untuk Keabadian

uthkg.com; Desain website oleh Cahaya TechDevKlub Cahaya

About the author : Nunik Cho
I'm nothing but everything